CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Jumat, 24 April 2009

WOUND CARE by FIFTH GROUP OF 08 PSIK UH...


BAB 1
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Kulit atau sistem integumen adalah organ tubuh yang paling luas. Kompisisi kulit mempunyai berat 1/6 dari total berat badan (Wysocki, 1995). Integumen merupakan barier pelindung terhadap organisme penyebab penyakit, organ sensorik untuk nyeri, suhu, dan sentuhan, serta dapat mensintesis vitamin D. Cedera pada integumen berisiko tehadap keselamatan tubuh dan merangsang respon penyembuhan yang kompleks. Pengetahuan tentang pola normal penyembuhan luka dapat membantu perawat mengenali berbagai perubahan yang memerlukan intervensi.
Kulit mempunyai dua lapisan utama, yaitu epidermis dan dermis. Kedua lapisan ini dipisahkan oleh kedua membran dasar, yang sering disebut dermis-epidermis. Epidermis atau lapisan luar mempunyai beberapa lapisan, stratum korneum adalah lapisan paling tipis dan lapisan ke dua dari epidermis. Stratum korneum terdiri dari sel mati yang pipih dam mengalami keratinasi. Sel-sel tersebut berasal dari sel epidermis, yaitu sel stratum basalis. Stratum korneum yang tipis melindungi sel dan jaringan dibawahnya dan mencegah terjadinya dehidrasi serta masuknya zat kimia tertentu. Dermis merupakan lapisan kulit bagian dalam yang memberikan daya elastis, sokongan mekanik, dan perlindungan bagi otot, tulang dan organ dibawahnya. Lapisan ini sebagian besar terdiri dari bagian penghubung dan sedikit sel kulit. Jaringan ini disususn oleh kolagen, pembuluh darah dan saraf. Fibrolas, yang bertanggung jawab membentuk kolagen, merupakan satu-satunya jenis sel khusus yang ada dalam dermis.
Kulit merupakan bagian tubuh yang paling berhubungan dengan konsep luka. Luka adalah Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang.
Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul:
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel
Luka bisa menyebabkan nyeri. Nyeri dapat digambarkan sebagai suatu pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan nyeri yang sudah atau berpotensi terjadi. Definisi ini menghindari pengkorelasian nyeri dengan suatu rangsangan, dan juga menekankan bahwa nyeri bersifat subjektif dan merupakan suatu sensasi sekaligus emosi. Pada sebagian besar pasien, sensasi nyeri ditimbulkan oleh suatu cedera atau yang cukup kuat untuk berpotensi mencederai ( berbahaya ). Pada kasus cedera, atau berpotensi mencederai, nyeri memiliki fungsi protektif, memicu respon terhadap stres berupa penarikan, penarikan diri, atau imobilisasi bagian tubuh. Namun, apabila fungsi protektif ini telah selesai nyeri yang berlanjut dapat memperlemah pasien, karena sering disertai oleh suatu respon stress berupa meningkatnya rasa cemas, denyut jantung, tekanan darah, dan kecepatan pernapasan.
Walaupun merupakan pengalaman subjektif dengan komponen sensori dan emosional yang tidak menyenangkan, nyeri memperlihatkan beberapa bukti objektif. Mengalami ekspresi wajah pasien, mendengarkan tangisan atau erengan, dan mengamati tanda-tanda vital yang dapat memberi petunjuk mengenai derajat nyeri yang dialami pasien. Namun, pengamatan-pengamatan diatas sangat diandalakan, sehingga pasien bersiko mendapat terapi nyeri yang kurang adekuat. Aktivitas sederhana seperti duduk untuk waktu lama dapat menyebabkan kerusakan jaringan karena kurangnya aliran darah ke kulit yang tertekan oleh berat badan. Bila kulit itu menjadi nyeri sebagai akibat iskemia, orang tersebut memindahkan berat badannya secara tidak disadari. Orang yang telah kehilangan indera nyerinya, seperti kerusakan medula spinalis, tidak dapat merasakan nyeri tersebut oleh karena itu tidak memindahkan berat badannya. Inilah yang akhirnya menyebabkan ulserasi pada daerah tekanan tersebut kecuali bila dilakukan tindakan-tindakan khusus untuk menggerakkan orang tersebut dari waktu ke waktu.a yang rusak atau ka timbul, beberapa ef Respon stres simpatis
B.Rumuasan masalah
1.Jenis-jenis luka?
2.Bagaimana Mekanisme terjadinya luka?
3.Bagaimana mekanisme terjadinya nyeri terhadap luka?
4.Bagaiman respon nyeri terhadap tubuh?
5.Bagaimana nyeri bisa mempengaruhi konsep istirahat?
6.Bagaimana infeksi bisa terjadi?
7.Bagaimanan proses-proses penyembuhan luka?
8.Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses penyembuhan luka?
9.Bagaimana cara mengatasi nyeri (manajemen nyeri)?

C.Tujuan
Setelah selesai mempelajari modul jatuh ini, mahasiswa diharapkan dapat dijelaskan :
1.Konsep persepsi sensori
2.Konsep asepsis, infeksi, dan inflamasi
3.Konsep luka
4.Manajemen nyeri
5.Konsep istirahat tidur

D.Manfaat
Adapun manfaat dari modul ini adalah mahasiswa dapat menjelaskan tentang jatuh, mekanisme terjadinya, dan sistem-sistem dalam tubuh yang mengalami perubahan sebagai akibat dari jatuh.
BAB II
PEMBAHASAN

B.KLARIFIKASI KATA-KATA KUNCI
1.Jenis kelamin : Laki-laki
2.Umur : 21 tahun
3.Terjatuh dari motor
4.Jejas pada bagian kaki kiri.
5.Lama perawatan
6.Tidak menunjukkan tanda-tanda penyembuhaN
D.PERTANYAAN PENTING
1.Jenis-jenis luka?
2.Bagaimana Mekanisme terjadinya luka?
3.Bagaimana mekanisme terjadinya nyeri terhadap luka?
4.Bagaiman respon nyeri terhadap tubuh?
5.Bagaimana nyeri bisa mempengaruhi konsep istirahat?
6.Bagaimana infeksi bisa terjadi?
7.Bagaimanan proses-proses penyembuhan luka?
8.Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses penyembuhan luka?
9.Bagaimana cara mengatasi nyeri (manajemen nyeri)?

E.JAWABAN PERTANYAAN
1.a. Berdasarkan status integritas kulit:
•luka terbuka: luka melibatkan robekan pada kulit atau membran mukosa
•luka tertutup: luka tanpa robekan pada kulit
•luka akut: luka yang mengalami proses penyembuhan, yang terjadi akibat proses perbaikan integritas, fungsi dan anatomi secara terus menerus, sesuai dengan tahap dan waktu yang normal.
•Luka kronik: luka yang gagal melewati proses perbaikan untuk mengembalikan integritas fungsi dan anatomi sesuai dengan tahap dan waktu yang normal.
b. Berdasarkan penyebabnya:
•Luka disengaja: luka akibat terapi
•Kecelakaan tidak disengaja: luka yang terjadi tanpa diharapkan
c. berdasarkan tingkat keparahan:
•Permukaan: luka hanya mengenai lapisan epidermis
•Penetrasi: luka yang menyebabkan rusaknya lapisan epidermis, dermis, dan jaringan atau organ yang lebih dalam
•Perforasi: luka penetrasi akibat adanya benda asing yang masuk dan keluar dari organ dalam
d. berdasarkan kebersihan:
•Clean Wounds (Luka bersih): luka bedah tak terinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan, genital, dan urinari tidak terjadi. Atau luka yang tidak mengandung organisme patogen.
•Clean-contamined Wouns (luka bersih terkontaminasi): merupakan luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi.
•Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi nonpurulen.
•Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka.
•Terkolonisasi: luka yang mengandung mikroorganisme (biasanya multipel)
e. berdasarkan kualitas deskriptif:
•Laserasi: jaringan tubuh robek dengan sisi yang tidak beraturan.
•Abrasi: luka permukaan, meliputi luka potong atau lecet
•Kontusio: luka tertutup karena pukulan benda tumpul. Kontusio atatu memar ditandai dengan pembekakan, perubahan warna kulit dan nyeri. (Potter & Perry : Fundamental keperawatan Vol 2)
2.Mekanisme terjadinya luka yaitu :
a.Luka insisi, terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Salah satu contohnya adalah luka akibat pembedahan.
b.Luka memar (Contusion wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan, dan bengkak.
c.Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit begesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
d.Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang masuk ke dalam kulit dengan diameter yang kecil.
e.Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat.
f.Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka termasuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.(http://www.podiatrytoday.com/article/1894)
3.Mekanisme terjadinya nyeri
Reseptor rasa nyeri yang terdapat di kulit dan jaringan lain semuanya merupakan ujung saraf bebas. Kapasitas jaringan untuk menimbulkan nyeri apabila jaringan tersebut mendapat rangsangan yang mengganggu bergantung pada keberadaan nosireseptor. Nosireseptor adalah saraf aferen primer untuk menerima dan menyalurkan rangsangan nyeri. Ujung-ujung saraf bebas nosireseptor berfungsi sebagai reseptor yang peka terhadap rangsangan mekanis suhu listrik dan kimiawi. Saraf perifer terdiri dari akson 3 tipe neuron yang berlainan : neuron aferen atau sensoris primer, neuron motorik, dan neuron pasca ganglion simpatis. Akson saraf aferen primer terbagi menjadi 2 prosessus : satu masuk ke kornu dorsalis medulla spinalis, dan yang lain mempersarafi jaringan. Saraf-saraf aferen primer diklasifikasikan berdasarkan ukuran, derajat mielinisasi, dan kecepatan hantaran. Saraf aferen aδ yang bergaris tengah kecil merupakan penghantar rasa nyeri cepat dan saraf aferen primer C merupakan penghantar rasa nyeri lambat. Ada tiga komponen fisiologis nyeri yaitu resepsi, persepsi, dan reaksi.
1.Resepsi, impuls saraf yang dihasilkan oleh stimulus nyeri menyebar di sepanjang serabut saraf perifer aferen. Tipe serabut saraf perifer mengonduksi stimulus nyeri yaitu serabut aδ dan serabut tipe C. Serabut rasa nyeri cepat tipe aδ terutama dilalui oleh rasa nyeri mekanik dan nyeri suhu akut serta serabut rasa nyeri lambat tie C, Pada saat terjadi luka serabut saraf tipe aδ yang berakhir di kornu dorsalis tepatnya di lamina marginalis melepaskan mediator biokimia yang mengaktifkan atau membuat peka akan respon tinggi. Di dalam kornu dorsalis tersebut, neurotransmiter berupa glutamat dan substansi P dilepaskan ke traktus neospinotalamikus yang berakhir di daerah retikularis batang otak. Neuron ini akan mengirimkan sinyal ke serabut panjang yang terletak di dekat sisi lain medulla spinalis dalam komisura anterior dan selanjutnya berbelok naik ke otak dalam kolumna antero lateralis.
2.Persepsi, Menhart dan Mecaffery (1983) menjelaskan tiga sistem interaksi persepsi nyeri sebagai sensori diskriminatif (mempersepsikan lokasi, keparahan, dan karakter nyeri), motivasi afektif (sistem limbik mengontrol respon emosi dan kemampuan yaitu kemampuan nyeri), dan kognitif evaluatif (kebudayaan, pengalaman dengan nyeri, dan emosi mempengaruhi evaluasi terhadap pengalaman nyeri).
3.Reaksi, reaksi fisiologis misalnya meningkatnya frekuensi nadi, meningkatkan ketegangan otot. Reaksi prilaku misalnya postur tubuh membengkok, ekspresi wajah menyeringai, dan menggertakkan gigi. (Potter & Perry, Fundaamental keperawatan Vol 2 ).
4.Respon tubuh terhadap nyeri yaitu :
a.Respon fisiologis, pada saat impuls nyeri naik ke medulla spinalais menuju ke batang otak dan talamus, sistem saraf otonom menjadi terstimulasi sebagai bagian dari respon stres. Stimulasi pada cabang simpatis pada sistem saraf otonom menghasilkan respon fisiologis. Apabila nyeri berlangsung terus-menerus, berat, atau dalam, dan secara tipikal melibatkan organ-organ viseral (seperti nyeri pada infark miokard, kolik akibat kandung empedu atau batu ginjal), sistem saraf parasimpatis menghasilkan suatu aksi. Respon fisiologis terhadap nyeri dapat membahayakan individu. Kecuali pada kasus nyeri traumatik yang berat, yang menyebabkan individu shok, kebanyakan individu mencapai tingkat adaptasi, yaitu tanda-tanda fisik kembali normal.
•Stimulasi Simpatik
1.Dilatasi saluran bronkiolus dan peningkatan frekuensi pernapasan.
2.Peningkatan frekuensi denyut jantung
3.Vasokonstriksi perifer (pucat, peningkatan tekanan darah)
4.Peningkatan kadar glukosa darah.
5.Diaforesis
6.Peningkatan ketegangan otot
7.Penurunan motilitas saluran cerna
•Stimulasi Parasimpatik
1.Pucat
2.Ketegangan otot
3.Penurunan denyut jantung dan tekanan darah
4.Pernapasan yang cepat dan tidak teratur
5.Mual dan muntah
6.Kelemahan atau kelelahan
b.Respon tingkah laku, mencakup :
•Pernyataan verbal (mengaduh, menangis, sesak nafas, dan mendengkur)
•Ekspresi wajah (meringis, menggeletukkan gigi, dan menggigit bibir)
•Gerakan tubuh (gelisah, immobilisasi, ketegangan otot, peningkatan gerakan jari dan tangan)
•Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (menghindari percakapan, menghindari kontak sosial, penurunan rentang perhatian, dan fokus pada aktifitas menghilangkan nyeri).
5.Nyeri dapat mempengaruhi konsep istirahat
Rangsangan listrik dalam daerah retikular batang otak dan dalam nukleus intralaminar talami, tempat berakhirnya serabut nyeri jenis lambat-menusuk, memiliki kemampuan yang kuat untuk menimbulkan efek pada aktivitas saraf melalui saraf otak. Pada kenyataannya, dua daerah ini merupakan bagan dari “sistem pembangkit” utama dari otak. Hal ini menerangkan mengapa hampir tidak mungkin bagi seseorang untuk tidur ketika dia menderita nyeri hebat. Sumber : Guyton & Hall : Fisiologi Kedokteran Edisi 11.

Terdapat berbagai tahap dalam tidur, tidur yang sangat ringan sampai tidur yang sangat dalam. Para peneliti tidur membagi tidur menjadi dua tidur yang berbeda serta memiliki kualitas yang berbeda pula yaitu :
1.Tidur gelombang lambat, pada tipe gelombang otak sangat kuat dan frekuensinya sangat rendah. Tahap ini sangat tenang dan dapat dihubungkan dengan penurunan tonus pembuluh darah perifer dan fungsi-fungsi vegetatif tubuh lain seperti tekanan darah, frekuensi pernapasan, dan basal metabolic rate yang berkurang 10-30%. Pada tahap ini juga sering timbul mimpi yang biasanya tak dapat diingat dikarenakan tidak terjadi konsilidasi mimpi dalam ingatan.
2.Tidur dengan pergerakan mata cepat ( REM sleep/tidur paradoksikal,desinkronisasi ), tipe ini mata bergerak dengan cepat meskipun orang tetap tidur. Tidur REM berlangsung 5-30 menit yang biasa mnucul rata-rata setiap 90 menit. Bila seseorang sangat mengantuk, setiap tidur REM berlangsung singkat dan bahkan tak ada. Sebaliknya, semakin nyenyak tidur durasi tidur REM juga semakin lama. Mimpi yang timbul lebih sering melibatkan aktivitas otot tubuh. Namun aktivitas otak tidak disalurkan kearah yang sesuai agar orang itu siaga penuh terhadap keadaan sekitar sehingga orang tersebut benar-benar tertidur.
Mekanisme penyebab tidur :
1.Daerah perangsangan yang utama dalam menimbulkan keadaan tidur alami adalah nuklei rafe yang tErletak separuh bagian bawah pons dan di medulla. Serabut sarafnya menyebar ke formasio retikularis batang otak ke hypotalamus, talamus, sistem limbik, dan neokorteks cerebri, ke medulla spinalis dan berakhir di radix posterior sebagai tempat penghambatan sinyal yang masuk seperti nyeri. Ujung saraf neuron ini menyekresikan serotonin yang merupakan transmitter yang berhubungan dengan timbulnya tidur.
2.Perangsangan beberapa area di nukleus traktus solitarius dapat menimbulkan tidur yang merupakan deret terminal di medulla dan pons dan dilewati sinyal sensorik viseral yang masuk melalui nervus vagus dan glosofaringeus.
3.Perangsangan beberapa regio diensphallon dapat membantu menimbulkan tidur, yaitu:
a.Regio rostral hypotalamus, terutama area supraciasma
b.Suatu Regio di nukeus divus talamus.
(Guyton & Hall : Fisiologi Kedokteran Edisi 11)
6.Mekanisme terjadinya infeksi: adanya patogen tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi. Perkembangan infeksi terjadi dalam siklus yang bergantung pada elemen-elemen berikut : agen infeksi atau pertumbuhan patogen, tempat atau sumber patogen, portal keluar dari tempat tumbuh tersebut, cara penularan, portal masuk ke pejamu dan pejamu yang rentan.

a.Agen infeksius, mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur, dan protozoa. Organisme transien melekat pada kulit saat seseorang kontak dengan orang atau dengan objek lain. Bakteri transien akan menempel pada kulit. Organisme ini siap untuk ditularkan kecuali bila dihilangkan dengan cuci tangan. Banyak mikroorganisme residen kulit tidak virulen dan hanya menyebabkan infeksi kulit minor.
b.Reserfoar, adalah tempat patogen bertahan hidup tetapi dapat atau tidak dapat berkembang biak. Reserfoar yang paling umum adalah tubuh manusia. Berbagai mikroorganisme hidup pada kulit dan dalam rongga tubuh. Carrier adalah manusia atau binatang yang tidak menunjukkan gejala penyakit tetapi ada patogen dalam tubuh mereka yang dapat ditularkan ke orang lain.
c.Portal keluar, setelah mikroorganisme menemukan tempat untuk tubuh dan berkembang biak, mereka harus menemukan jalan keluar jika mereka masuk ke pejamu lain dan menyebabkan penyakit. Mikroorganisme ini dapat keluar melalui berbagai tempat, seperti kulit dan membran mukosa, traktus respiratorius, traktus urinarius, traktus gastrointestinal, traktus reproduktif, dan darah.
d.Cara penularan, penyakit infeksius tertentu cenderung ditularkan secara umum melalui cara yang spesifik misalnya kontak langsung dengan pejamu yang rentan, kontak tidak langsung dengan benda mati yang terkontaminasi, kontak droplet dari partikel besar yang terpecik sampai tiga kali, udara dari droplet evaporasi yang ada di udara, peralatan yang telah terkontaminasi darah, makanan, nyamuk, kutu, dan lalat.
e.Portal masuk, organisme dapat masuk ke dalam tubuh melakui rute yang sama dengan yang digunakan untuk keluar.
f.Hospes rentan, seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan terhadap agen infeksius. Resistensi seseorang terhadap agen infeksius ditingkatkan dengan faksin atau bahkan mengalami sakit.
g.Proses infeksi
•Periode inkubasi, interval antara masuknya patogen ke dalam tubuh dan munculnya gejala pertama misalnya campak dua sampai tiga minggu.
•Tahap prodromal, interval dari awitan tanda dan gejala nonspasifik (malaise, demam ringan, keletihan) sampai gejala yang spesifik (selama masa ini, mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak dan klien lebih mampu menyebarkan penyakit ke orang lain)
•Tahap sakit, interval saat klien memanivestasikan tanda dan gejala yang spesifik terhadap jenis infeksi misalnya demam dimanivestasikan dengan sakit tenggorok.
•Pemulihan, interval saat munculnya gejala akut infeksi
(Potter & Perry, Fundamental Keperawatan Vol 1)
7.Proses-proses penyembuhan luka :
Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan jalan “proses peradangan”, yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama: bengkak (swelling), kemerahan (redness), panas (heat), Nyeri (pain) dan kerusakan fungsi (impaired function). Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase :
1.Fase Inflamasi
Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuan yang hendak dicapai adalah menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda asing, sel-sel mati dan bakteri untuk mempersiapkan dimulainya proses penyembuhan. Pada awal fase ini kerusakan pembuluh darah akan menyebabkan keluarnya platelet yang berfungsi sebagai hemostasis. Platelet akan menutupi vaskuler yang terbuka (clot) dan juga mengeluarkan “substansi vasokonstriksi” yang mengakibatkan pembuluh darah kapiler vasokonstriksi. Selanjutnya terjadi penempelan endotel yang akan menutup pembuluh darah. Periode ini berlangsung 5-10 menit dan setelah itu akan terjadi vasodilatasi kapiler akibat stimulasi saraf sensoris (Local sensory nerve endding), local reflex action dan adanya substansi vasodilator (histamin, bradikinin, serotonin dan sitokin). Histamin juga menyebabkan peningkatan permeabilitas vena, sehingga cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah dan masuk ke daerah luka dan secara klinis terjadi oedema jaringan dan keadaan lingkungan tersebut menjadi asidosis.
Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema, hangat pada kulit, oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4.
2.Fase Proliferatif
Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas sangat besar pada proses perbaikan yaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses reonstruksi jaringan.
Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan), pemaparan sel fibroblas sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan penunjang. Sesudah terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam daerah luka, kemudian akan berkembang (proliferasi) serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen, elastin, hyaluronic acid, fibronectin dan proteoglycans) yang berperan dalam membangun (rekontruksi) jaringan baru. Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah membentuk cikal bakal jaringan baru (connective tissue matrix) dan dengan dikeluarkannya substrat oleh fibroblas, memberikan pertanda bahwa makrofag, pembuluh darah baru dan juga fibroblas sebagai kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka. Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam didalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan “granulasi”.
Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet

3.Fase Maturasi
Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah ; menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi, warna kemerahan dari jaringa mulai berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut. Kekuatan dari jaringan parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan.
Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan. Kolagen yang berlebihan akan terjadi penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar, sebaliknya produksi yang berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka.
Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan jaringan parut mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktifitas normal. Meskipun proses penyembuhanluka sama bagi setiap penderita, namun outcome atau hasil yang dicapai sangat tergantung pada kondisi biologis masing-masing individu, lokasi serta luasnya luka. Penderita muda dan sehat akan mencapai proses yang cepat dibandingkan dengan kurang gizi, diserta penyakit sistemik (diabetes mielitus).
(http://www.podiatrytoday.com/article/1894).
8.Faktor-faktor penyembuhan luka
1.Usia
Semakin tua seseorang maka akan menurunkan kemampuan penyembuhan jaringan.
2. Infeksi
Infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka tetapi dapat juga menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang, sehingga akan menambah ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang maupun kedalaman luka.
3.Hipovolemia
KuRangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
4.Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan luka.
5.Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (“Pus”).
6.Iskemia
Iskemi merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
7.Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh.
8.Pengobatan
•Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera.
•Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan.
•Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.
9.Radisi
Proses pembentukan jaringan paru vaskuler dan fibrosa akan terjadi pada jaringan kulit yang tidak teradiasi. Jaringan mudah rusak dan kekurangan oksigen.
10.Merokok
Merokok mengurangi jumlah Hb fungsional dalam darah sehingga menurunkan oksigenasi jaringan. Merokok dapat meningkatkan agredasi trombosit dan menyebabkan hiperkoagulasi. Merokok dapat mengganggu mekanisme sel normal yang dapar meningkatkan pelepasan oksigen ke dalam jaringan.
11.Nutrisi
Penyembuhan luka secara normal memerlukan nutrisi yang tepat. Proses fisiologi penyembuhan luka bergantung pada tersedianya protein, vitamin, mineral, dan tembaga. Apabila seseorang mengalami malnutrisi, maka semua fase penyembuhan luka akan terganggu. Begitupun dengan pasien yang mengalami obesitas, maka jaringan lemak akan kekurangan suplai darah untuk melawan infeksi bakteri dan untuk mengirimkan nutrisi serta elemen selular yang berguna dalam penyembuhan luka.
9.Manajemen nyeri (cara mengatasi nyeri)
Adapun obat yang digunakan untuk terapi nyeri farmakologis :
1.Analgesik Narkotik
Opiat merupakan obat yang paling umum digunakan untuk mengatasi nyeri pada klien, untuk nyeri sedang hingga nyeri yang sangat berat. Pengaruhnya sangat bervariasi tergantung fisiologi klien itu sendiri. Klien yang sangat muda dan sangat tua adalah yang sensitive terhadap pemberian analgesic ini dan hanya memerlukan dosisi yang sangat rendah untuk meringankan nyeri (Long,1996).
Narkotik dapat menurunkan tekanan darah dan menimbilkan depresi pada fungsi – fungsi vital lainya, termasuk depresi respiratori, bradikardi dan mengantuk. Sebagian dari reaksi ini menguntungkan contoh : hemoragi, sedikit penurunan tekanan darah sangan dibutuhkan. Namun pada pasien hipotensi akan menimbulkan syok akibat dosis yang berlebihan.
2.Analgesik Lokal
Analgesik bekerja dengan memblokade konduksi saraf saat diberikan langsung ke serabut saraf.
3.Analgesik yang dikontrol klien
Sistem analgesik yang dikontrol klien terdiri dari Infus yang diisi narkotik menurut resep, dipasang dengan pengatur pada lubang injeksi intravena. Pengandalian analgesik oleh klien adalah menekan sejumlah tombol agar masuk sejumlah narkotik. Cara ini memerlukan alat khusus untuk mencegah masuknya obat pada waktu yang belum ditentukan. Analgesik yang dikontrol klien ini penggunaanya lebih sedikit dibandingkan dengan cara yang standar, yaitu secara intramuscular. Penggunaan narkotik yang dikendalikan klien dipakai pada klien dengan nyeri pasca bedah, nyeri kanker, krisis sel.
4.Obat – obat nonsteroid
Obat – obat nonsteroid antiinflamasi bekerja terutama terhadap penghambatan sintesa prostaglandin. Pada dosis rendah obat – obat ini bersifat analgesic. Pada dosis tinggi, obat obat ini bersifat antiinflamatori sebagai tambahan dari khasiat analgesik.
Prinsip kerja obat ini adalah untuk mengendalikan nyeri sedang dari dismenorea, arthritis dan gangguan musculoskeletal yang lain, nyeri postoperative dan migraine. NSAID digunakan untuk menyembuhkan nyeri ringan sampai sedang.
Terapi nyeri nonfarmakologis
Menurut Tamsuri (2006), selain tindakan farmakologis untuk menanggulangi nyeri ada pula tindakan nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri terdiri dari beberapa tindakan penaganan berdasarkan :
1.Penanganan fisik/stimulasi fisik meliputi :
a)Stimulasi kulit
Massase kulit memberikan efek penurunan kecemasan dan ketegangan otot. Rangsangan masase otot ini dipercaya akan merangsang serabut berdiameter besar, sehingga mampu mampu memblok atau menurunkan impuls nyeri.
b) Stimulasi electric (TENS)
Cara kerja dari sistem ini masih belum jelas, salah satu pemikiran adalah cara ini bisa melepaskan endorfin, sehingga bisa memblok stimulasi nyeri. Bisa dilakukan dengan massase, mandi air hangat, kompres dengan kantong es dan stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS/ transcutaneus electrical nerve stimulation). TENS merupakan stimulasi pada kulit dengan menggunakan arus listrik ringan yang dihantarkan melalui elektroda luar.
c) Akupuntur
Akupuntur merupakan pengobatan yang sudah sejak lama digunakan untuk mengobati nyeri. Jarum – jarum kecil yang dimasukkan pada kulit, bertujuan menyentuh titik-titik tertentu, tergantung pada lokasi nyeri, yang dapat memblok transmisi nyeri ke otak.
d) Plasebo
Plasebo dalam bahasa latin berarti saya ingin menyenangkan merupakan zat tanpa kegiatan farmakologik dalam bentuk yang dikenal oleh klien sebagai “obat” seperti kaplet, kapsul, cairan injeksi dan sebagainya.
adapun Intervensi perilaku kognitif meliputi :
1)Relaksasi
Relaksasi otot rangka dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan merelaksasikan keteganggan otot yang mendukung rasa nyeri. Teknik relaksasi mungkin perlu diajarkan bebrapa kali agar mencapai hasil optimal. Dengan relaksasi pasien dapat mengubah persepsi terhadap nyeri.
2)Umpan balik biologis
Terapi perilaku yang dilakukan dengan memberikan individu informasi tentang respon nyeri fisiologis dan cara untuk melatih kontrol volunter terhadap respon tersebut. Terapi ini efektif untuk mengatasi ketegangan otot dan migren, dengan cara memasang elektroda pada pelipis.
3)Hipnotis
Membantu mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif.
4)Distraksi
Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan sampai sedang. Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan bola), distraksi audio (mendengar musik), distraksi sentuhan (massase, memegang mainan), distraksi intelektual (merangkai puzzle, main catur)
5)Guided Imagery (Imajinasi terbimbing)
Meminta klien berimajinasi membayangkan hal-hal yang menyenangkan, tindakan ini memerlukan suasana dan ruangan yang tenang serta konsentrasi dari klien. Apabila klien mengalami kegelisahan, tindakan harus dihentikan. Tindakan ini dilakukan pada saat klien merasa nyaman dan tidak sedang nyeri akut.

F.TUJUAN PEMBELAJARAN SELANJUTNYA
1.Memahami dengan spesifik proses pembekuan darah.
2.Memahami komplikasi apa saja yang kemungkinan bisa terjadi dalam proses penyembuhan luka.

G.INFORMASI TAMBAHAN
1.Proses pembekuan darah
Pembekuan darah adalah transformasi darah dari cairan menjadi jel padat. Pembekuan suatu bekuan di atas sumbat trombosit memperkuat dan menunjang sumbat, memperkuat tambalan yang menutupi lubang di pembuluh. Selain itu, seiring dengan padatnya darah di sekitar defek pembuluh, darah tidak lagi dapat mengalir. Langkah terakhir dalam pembentukan bekuan adalah perubahan fibrinogen, suatu protein plasma besar yang larut dan dihasilkan oleh hati, menjadi fibrin, suatu molekul berbentuk benang yang tidak larut. Perubahan menjadi fibrin ini dikatalisasi oleh enzim trombin di tempat pembuluh yang mengalami cedera. Molekul fibrin melekat di permukaan pembuluh yang rusak, membentuk struktur mirip jaring longgar yang menangkap unsur-unsur sel darah. Massa yang terbentuk, biasanya tampak merah karena banyaknya sel darah merah yang terperangkap tetapi dasar dari bekuan tersebut adalah fibrin yang berasal dari plasma. Kecuali trombosit, yang berperan penting dalam mengubah fibrinogen menjadi fibrin, pembekuan darah dapat berlangsung tanpa kehadiran unsur sel lain dalam darah.
2.Komplikasi yang mungkin terjadi yaitu
a.Hematoma (hemorrhage), merupakan hal yang normal terjadi selama dan sesaat setelah trauma. Homeostatis terjadi setelah beberapa menit kecuali jika luka mengenai pembuluh darah besar atau pembekuan darah menjadi buruk. Hematoma juga merupakan pengumpulan darah lokal di bawah jaringan yang terlihat seperti bengkak atau massa yang sering berwarna kebiruan.
b.Infeksi, infeksi luka merupakan infeksi nosokomial. Luka mengalami infeksi jika terjadi drainase purulen pada luka, walaupun tidak dilakukan kultur atau hasil kultur negatif.
c.Dehiscence, adalah terpisahnya lapisan luka secara parsial dan total. Dehiscence sering terjadi pada luka pembedahan abdomen dan terjadi setelah regangan mendadak.
d.Efiserasi, adalah terpisahnya lapisan luka secara total atau keluarnya organ viseral melalui organ yang terbuka.
e.Fistula, adalah saluran abnormal yang berada di antara dua buah organ atau diantara organ dan bagian luar tubuh. Fistula meningkatkan resiko terjadinya infeksi dan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit akibat kehilangan cairan.
f.Penundaan penutupan luka, adalah tindakan yang sengaja dilakukan oleh dokter bedah agar terjadi drainase yang efektif dari luka yang terkontaminasi bersih atau luka yang terkontaminasi.
g.Keloid, merupakan jaringan ikat yang tumbuh secara berlebihan yang biasanya muncul tidak terduga dan tidak pada setiap orang.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil tutorial modul ini adalah sebagai berikut :
a.Luka adalah rusaknya kesatuan atau komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang.
b.Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka adalah :
•Usia
•Infeksi
•Nutrisi
•Merokok
•Pengobatan
•Hipovolemia
•Hematoma
•Diabetes
•Radiasi
•Benda asing
•Iskemia
c.Luka akan mempengaruhi beberapa sistem-sistem dalam tubuh diantaranya adalah :
•Persepsi sensori
•Asepsis, infeksi, dan inflamasi
•Konsep istirahat tidur
d.Secara umum proses penyembuhan luka terdiri dari tiga tahap, yaitu :
•Fase inflamasi
•Fase proliferasi (regenerasi )
•Fase maturasi (Remodelling)
Saran
Adapun saran yang ingin disampaikan adalah sebagai berikut :
•Diharapkan agar seluruh anggota kelompok berpartisipasi aktif baik dalam diskusi kelompok, maupun dalam penyelesaian laporan.
•Diharapkan agar dalam pengumpulan bahan laporan tepat waktu

DAFTAR PUSTAKA

_______. 2009. Defenisi Luka. http://www.podiatrytoday.com/article/1894.

_______. 2009. Tata Laksana Nyeri. http://www.kimianet.lipi.go.id.

Guyton. 1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta : EGC.

Guyton Dan Hall. 2007. Fisiologi Kedokteran.Jakarta : EGC.
Price,sylvia A. & lorraine McCarty Wilson. 2005 Patofisiologi Konsep klinis proses-proses penyakit Edisi 6 Vol 2. Jakarta : EGC

Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan Vol 2. Jakarta : EGC.

Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan vol 1. Jakarta : EGC.

Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel Ke Sistem. Jakarta : EGC.

Kelompok V

HASRAWATI C 12108002
SATRIANI C 12108013
JAMALIA SARODEN C 12108101
ETRI PERTIWI C 12108256
HAYYU SITORESMI C 12108269
MUH. YUSUF BANDU C 12108274
DEDI PURNOMO C 12108285
ALFRINA YUNIARTI C 12108287
SAINAB KIKA C 12108290
NOVITA SARI RUSTAM C 12108304
MARLIN SEPTIANI C 12108306.

0 komentar: